Design by Techdesigns.co.uk.

Hati Annie.

Annie punya hati. Warnanya merah bak buah ranum yang siap dipetik.

Ini hatiku. Ucap annie seraya menunjukkan hatinya yang berada di dalam setoples kaca bening.

Hati annie begitu merona kemerahan. Aku tahu pasti ada seorang pria yang sedang menabur benih cinta di atas hati annie hingga hatinya terlihat begitu elok dan rupawan.

Annie jatuh cinta.

Di kala senja menyingkap, terdengar tiga ketukan di pintu rumahku. Aku bergegas berlari untuk membukakan pintu. Seketika aku melihat air wajah annie yang muram. Ia tampak begitu sedih, aku bisa melihat butiran air mengembang di ujung kelopak mata indahnya. sesekali ia menangis sesenggukan. Aku memberikan bahuku kepadanya agar ia bisa menangis dengan leluasa. Ia mengatakan kalau hatinya kini sudah berwarna biru. Pucat dan Menyusut perlahan-lahan.

Hati annie memang terlihat begitu biru. Pucat. dan dingin. Serta ukurannya menjadi begitu kecil karena menyusut sedemikian rupa. pun air muka annie masih tetap muram. Dan ia masih sering bergelung dengan kesedihan.

Annie patah hati.

Minggu pagi aku mengajak Annie untuk pergi ke taman yang luas. Taman dimana terdapat rerumputan hijau sejauh mata memandang. Disana tampat kami mengenyakkan tubuh di atas rumput yang lembut dan hangat. Saling berbagi cerita dengan taburan butiran cinta. Dan oh, Annie juga kerap membawakan sepotong kue cokelat yang semanis parasnya untukku.

Kini Hati annie tidak lagi biru, pucat dan menyusut. Hati annie kini terlihat merah. Segar. Elok dan menawan seperti dulu. Gelak tawa renyah kini telah menggantikan sedu-sedan tangisan Annie.

Suatu hari annie datang menemuiku. Ia berterimakasih kepadaku karena telah membuat hatinya tidak lagi biru kepucatan. Ia mengucapkan salam perpisahan karena ingin pergi ke lain negara. Ia memberikan kecupan kecil di pipiku.

Aku pergi ke kamar. Membuka lemariku. Dan melihat sebuah hati yang berada di setoples kaca bening. Hati itu begitu merona kemerahan. Begitu ranum. Begitu elok dan indah. Ah ini pasti hati Annie. Mengapa bisa tertinggal di kamarku, batinku. Aku mengirim pesan kepadanya, memberitahukan kalau hatinya tertinggal di kamarku, dan akan ku kembalikan hati ini kepadanya sebelum ia beranjak pergi meninggalkanku.

Annie membalas pesanku. Ia bilang itu bukan hati kepunyaannya. Karena hatinya ada padanya. Tersimpan dengan rapi dalam setoples kaca bening yang ia bawa di dalam tas.

Sesaat ku tersadar. Itu bukan hati annie. Itu hatiku. Hatiku yang terlihat begitu merah. Ranum. Indah. Dan rupawan. Sepertinya aku sedang jatuh cinta.

Jatuh cinta dengan Annie.

Posted: January 9th, 2010 under Stupid-Essay - 1 Comment.

Perempuanku Mati di malam natal.

Perempuanku sedang sakit, ia terbaring lemah di Rumah sakit.

Wajahnya pucat pasi, tampak kematian mendekati. Tubuhnya kini berbau melati.

Ini malam natal perempuanku, jangan kau mati hari ini.

Jangan kau tinggalkan aku sendiri disini.

Aku berdiri di gereja, bersama puluhan jemaat.

Melantukan lagu kidung yang meghilang lamat-lamat.

Aku berdoa “Tuhan jangan biarkan perempuanku mati di malam natal ini”

Aku menutup doa. Dan tenggelam dalam kanon-riuh nyanyian

Perempuanku, katakan apa yang kau inginkan dimalam natal ini?

Tapi bibir pipihmu tertutup rapat, aku bisa melihat kata-kata itu terhenti dan teronggok di balik bibir mungilmu.

Ah, mungkin kau ingin bulan. Kau selalu bertutur betapa kau menyukai bulan yang kuning keemasan bukan?

Dari jendela rumah sakit. Aku pergi mengambil bulan untukmu.

Menimang-nimang bulan itu, dan meletakkannya di tanganmu yang tampak kurus.

Namun jantungmu berhenti berdetak. Aku menangis. Bulan itu jatuh membentur lantai dari tangan kurusmu. ia pecah terbelah dua.

Perempuanku kini mati di malam natal.

wajahnya tirus nan pucat.

Natal esok ku harap bumi berguncang menyatukan jasadmu dalam pelukku.

ku kecup pipimu yang dingin sembari berucap

“Selamat natal perempuanku”

Posted: December 26th, 2009 under Stupid-Essay - 2 Comments.

Cinta Ujang Bersemi di Bus.

love

Pagi yang dingin. Matahari belum genap beranjak dari tidurnya untuk memberi secuil kehangatan bagi tubuh mungil ujang. Ia masih berdiri dengan rambut masai, mata mengantuk, dan bau badan yang menyengat akibat jarang mandi berhari-hari. Sesekali ia membersihkan debu yang menempel pada gitar kecil-butut yang nampak setia menemani kesehariannya. Matanya—walau masih setengah tertutup—tak pernah beranjak menatap arah ujung jalan raya yang masih tampak lengang. 15 menit ia menunggu, namun masih belum tampak sosok sebuah bus jemputan karyawan yang sedari tadi ia nantikan kedatangannya. Ia pun bernyanyi kecil selarik lagu—yang semalaman suntuk ia pelajari—sembari menunggu kedatangan bus itu.

Tahun ini ia beranjak 12 tahun, Tahun yang seharusnya menjadi tahun pertama ia menginjak bangku SMP di sekolah, bukan menjadi pengamen jalanan yang kerap menaiki bus jemputan karyawan dan selalu disambut dengan tatapan sinis  bagi mereka yang merasa terganggu oleh kehadiran Ujang. biasanya tatapan mata sinis itu diberikan oleh mereka yang tengah asyik membaca novel, asyik pulas tertidur, dan asyik mendengarkan musik lewat MP3 player. Namun tidak semua karyawan menghadiahi tatapan sinis kepada Ujang, ada salah satu karyawan yang kerap melemparkan seutas senyum manis kepada Ujang saat jemari kecilnya mulai menari memainkan senar gitar,  saat suara sumbangnya mulai menggema melantunkan beberapa lagu pop yang tengah populer di masyarakat. Ia tidak tahu nama karyawan itu. Yang ia tahu karyawan itu begitu cantik, begitu memesona, begitu wangi, begitu rapih, dan begitu ramah kepada Ujang. Ditambah Karyawan itu tak pernah lupa memberikan selembar uang Rp. 1,000 kepada Ujang setiap kali mengamen di bus itu.

Tahun ke-12, bisa jadi merupakan tahun pertama ia tidak dapat menikmati bangku SMP akibat himpitan ekonomi, namun di tahun ke-12 ini, ia sedang menikmati rasanya jatuh cinta kepada seorang perempuan untuk pertama kalinya
Read more »

Posted: December 2nd, 2009 under Short Stories - 4 Comments.

Mama tidak bekerja di kantor, tidak juga memakai seragam.

michael_parkes_angel_affair

“Aku kepingin seperti Mamaku” ucap Kiki dengan riang.

“O ya? emang apa kerjaan Mama kamu?” tanya Rizka.

“Mamaku pramugari. Ia cantik, apalagi saat memakai seragam. Ia juga udah pergi ke banyak negara loh. Amerika, Swedia, Inggris, dan minggu depan Mama mau ke Australia.” jawab Kiki dengan semangat.

“Sama aku juga mau seperti Mamaku” tukas Rizka tidak mau kalah.

“Mama kamu kerja dimana emangnya?” tanya Kiki penasaran.

“Mama aku kerja di kantor. Di Bank.”

“Oh, pasti make seragam donk ya?”

“Iya”

“Pastinya juga cantik donk seperti Mamaku”

“Iya”

Kedua perempuan mungil itu masing-masing hanyut dalam setiap larik percakapan mengenai Mamanya. Tergurat rasa senang dan bangga di raut wajah polos kedua bocah itu saat menuturkan masing-masing pekerjaan Mama mereka. Di sampingnya duduk salah satu teman mereka, yang sedari awal tidak ikut terlibat pembicaraan. Perempuan itu hanya bisa menatap nanar kedua temannya yang sibuk berceloteh. Sesekali ia terlihat memainkan ujung jarinya dan meniup-niup poni kecil rambutnya.

“Nonni, Mama kamu kerja apa?” tanya Kiki.

“Eh iya, ceritain donk Mama kamu kerja apa?” timpal Rizka.

Nonni tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk disusun, kemudian diucapkan kepada kedua temannya menjelaskan pekerjaan Mama. pikirannya meloncat-loncat saat mencari kata-kata yang tepat, namun usahanya nihil, hanya sekelebat bayangan rokok dan minuman keras berserakan di tempat tidur Mama, sekelebat bayangan dirinya yang selalu tidur sendirian tanpa ada yang menemani, sekelebat bayangan Mama yang selalu membawa berbagai macam pria tak dikenal ke dalam rumah, sekelebat siluet bayangan Pria tak dikenal menghilang bersama Mama di balik pintu Kamar, dan terakhir sekelebat bayangan Pintu kamar yang ditutup dari dalam oleh Mama bersama pria tak dikenal itu.

****

Di malam hari, Nonni kerap terbangun akibat suara lenguhan pendek-pendek Mama yang berkanon dengan suara pria-tak-dikenal dari kamar sebelah—kamar Mama. suara desahan napas dan erangan terdengar seperti simfoni yang mengetuk hati Nonni untuk mencari tahu apa yang sedang dikerjakan Mama bersama pria-tak-dikenal itu. Pernah Nonni sesekali mencoba mengetuk pintu kamar Mama, namun ia merasakan rasa takut yang menjalar dari tengkuk perlahan merayap ke tangannya, membuat dirinya mematung berdiri di depan pintu, membuat dirinya urung untuk mengetuk pintu kamar Mama. Pernah dicobanya juga untuk memanggil Mamanya keras-keras, namun rasa takut pula yang membuat lidahnya kelu tak bersuara.

Keesokan pagi, saat mentari beringsut menyembul dari balik bebukitan ufuk timur. Nonni terbangun mendapati Mama bersama si pria-tak-dikenal sedang sarapan pagi. Dilihatnya  pemandangan Mama yang tengah menyiapkan dadar telur dan secangkir kopi hangat. Sementara si pria-tak-dikenal tengah tenggelam  asyik membaca Koran. Rambutnya yang tersisir rapih kebelakang terlihat serasi dengan balutan kemeja putih dan dasi biru yang tesemat di kerah. Sejumlah pertanyaan terus menggayuti pikiran Nonni, siapakah pria ini? Pria ini bukanlah Papa Nonni, Papa sudah lama pergi meninggalkan Nonni. Setidaknya itu yang selalu dikatakan Mama kepada Nonni.

Mamanya kerap mematut lama-lama di depan kaca rias. Menaburkan bedak lembut ke wajahnya, menyaput bibirnya dengan lipstik hingga terlihat merah merona, lalu meminta Nonni untuk membacakan pesan yang masuk di handphone-nya.

“Apa tulisannya Nonn?”

“H.I. Kamar 301. Jam 16:30”

Mama segera beranjak dari meja rias. Mendekati Nonni, seraya mencium keningnya. “Ya udah, Mama berangkat dulu ya sayang”

Nonni menyadari kalau Mamanya tidak pergi ke kantor, tidak juga mengenakan seragam seperti Mamanya Kiki dan Rizka, Nonni juga menyadari kalau Mamanya keluar bukan untuk berpergian ke luar negeri: Amerika, Inggris, Perancis, atau Australia. Nonni juga menyadari kalau kemungkinan besar Mama tidak bisa menemaninya tidur malam ini. Namun Nonni masih terlalu dini dan polos untuk mengetahui apa pekerjaan Mamanya.

Keesokan paginya, Mama pulang dengan kondisi yang lusuh. rambut masai. Wajah pasi. namun Nonni dapat melihat sinar bahagia yang terpancar dari kedua bola mata Mama, dari simpul sungging senyum mama, dari kecup bibir pipih mama yang ditoreh di atas pipi Nonni.

Setelah seharian berpergian meninggalkan Nonni, Mama tidak pernah lupa mengajak putri tunggalnya itu untuk jalan-jalan ke Mall, sekadar menemaninya membeli buku komik, menonton Ice age di 21, dan makan di pizza hut. Kegiatan itu menjadi hal yang istimewa bagi Nonni untuk melepas rasa rindu kepada Mamanya. Setidaknya sampai kehadiran si pria-tak-dikenal itu yang menganggu acara ibu-anak tersebut di Mall.

Sudah sebulan belakangan ini si Pria-tak-dikenal ikut menemani Mama setiap membawa Nonni jalan-jalan pergi ke Mall. Nonni tidak menyukai pria-tak-dikenal itu, Nonni tidak menyukai cara ia memegang tangan Mama, cara ia menyematkan sebelah tangannya di pinggul Mama, cara ia mengucapkan “Aku sayang  padamu” kepada Mama, dan cara ia menyuapkan sepotong pizza ke mulut Mama. Kehadiran si pria-tak-dikenal telah mengurangi perhatian Mama kepada dirinya. Acara jalan-jalan ke Mall menjadi sesuatu yang membosankan semenjak kehadiran si pria-tak-dikenal itu.

Acara Makan pizza bersama kali ini sungguh berbeda dari biasanya. Setidaknya saat sesosok wanita paruh baya berjalan dengan cepat menghampiri si pria-tak-dikenal yang kedapatan sedang asyik memegang tangan Mama. Nonni bisa melihat sekelebat tangan gempal milik wanita paruh baya itu mendarat keras di pipi si pria-tak-dikenal. Seketika pipinya merah merona. Wajah mama terkesiap melihat pemandangan itu, Namun Nonni malah tersenyum geli seraya terkikik kecil. Sementara puluhan mata pengunjung restoran tertuju pada meja kami.

“Oh, ternyata dia, yang jadi Piaraan kamu Selama ini ya!!??”

“Ini bukan siapa-siapa ma, ini hanya teman kantor!!”

“Kamu pikir saya GEBLEG apa!!, saya udah membuntuti kamu selama dua minggu ini di mall ini.”

“T-tapi ini hanya teman kantor Ma..”

PLAKK!!

Untuk kedua kalinya pipi si pria-tak-dikenal dihunjam tamparan yang dilayangkan wanita paruh baya itu.

“Temen Kantor kok pake acara rangkul-rangkulan segala, temen kantor kok pake acara pegang-pegangan tangan segala, Makan nih temen kantor!!”

Sepotong pizza di ambil wanita itu sebelum dilemparnya kuat-kuat ke arah muka si pria-tak-dikenal. Merasa belum puas, wanita itu kembali mengambil minuman Black current milik Nonni lalu menyiramnya ke muka si pria-tak-dikenal, yang sepertinya akan menjadi adegan penutup dari pertunjukan drama di restoran itu. Wanita itu perlahan bersijengkat meninggalkan restoran dengan langkah pasti. Sementara si pria-tak-dikenal dengan wajah masih bertaburan sosis, keju, dan garlic berlari mengejar wanita paruh baya sambil terus berceloteh kalau Mama hanya teman kantornya.

Nonni terkesiap kaget setelah jari jemari mungil menari di hadapannya, jari jemari itu ternyata milik Kiki yang tengah berusaha membangunkan Nonni dari lamunannya.

“Eh, Nonni jawab donk. Mama Kamu kerja apa sih?”

“Mama tidak bekerja di kantor, tidak juga memakai seragam” Ucap gadis kecil itu seraya mengambil tasnya dan melongos pergi meninggalkan kedua temannya begitu saja.

Posted: November 11th, 2009 under Short Stories - 5 Comments.

Ungu. Biru. Oranye

purple-sky-sun-set

Tahukah kamu kalau Aku membenci Ungu?

Ya, Aku membenci Ungu.

Aku hanya mencintai Biru. Kekasihku yang berupa bentangan langit di angkasa, yang kerap membuatku ingin terbang untuk bermain-main dengan gelembung awan gemawan. Tempat aku melukiskan bentuk hati dengan telunjuk diantara setiap celahnya, untuk kemudian aku tiup pelan-pelan hingga ia beriak tenang menyusuri angkasa. Bila kalian melihat bentuk hati di awan, itu adalah hatiku. Hati yang aku toreh dengan ujung telunjuk di atas awan. Hati untuk kekasihku Biru.

Tahukah kamu kalau Aku tidak pernah menyukai Ungu?

Ya, Aku tidak menyukai Ungu.

Aku hanya menyukai tambatan hatiku kuning. Tambatan hati yang berupa sinar kuning kilau keemasan bak cahaya rembulan. Bila malam tiba, percayalah tambatan hatiku itu tidak pernah lupa mengetuk jendela kamar untuk membangunkanku dari bunga mimpi. Biasanya ia mengecup pipiku dan mengajakku untuk duduk di atas rembulan. Diatas rembulan aku meraih kedua tangan halusnya, mengapit jari-jemari kecilnya dan bersama kami mulai menari. Sekejap bintang-bintang dan angkasa berubah menjadi sebuah ballroom. dan kami mulai menari waltz, tango,  maupun slow foxtrot. Bila malam hari kalian melihat siluet dua orang di atas rembulan, itu adalah aku dan tambatan hatiku—kami sedang menari.

Tahukah kamu kalau Aku tidak pernah menaruh minat dengan Ungu?

Ya, Aku tidak ada minat dengan Ungu.

Aku hanya menaruh minat kepada pacarku oranye, pacar yang berupa sepotong senja di kala bola matahari tengah beringsut di balik bebukitan. Bila sore tiba, pacarku selalu menyambutku dengan semburat cahaya merah yang tengah berpilin membungkus bola matahari yang kian redup. Aroma rambutnya seperti padang rumput basah yang tak pernah bosan aku gerai. Tubuhnya begitu kecokelatan hingga membuatku ingin terus berpaut padanya.

Namun pagi itu kamu datang mengenakan Ungu. Sebuah warna yang tidak pernah aku sukai dari dulu. Warna yang tidak pernah aku taruh minat sebelumnya. Perlahan namun pasti diam-diam hatiku terpaut padamu, Aku kerap mengamati caramu mengetik komputer, memandangi caramu berjalan menyusuri setiap kubikel, menatap caramu makan di kantin. Tentu saja aku melakukan itu semua dengan sembunyi-sembunyi.

Kini diam-diam aku telah meninggalkan biru kekasihku. Aku tidak pernah terbang lagi ke atas untuk menorehkan gambar hati di setiap sembulan awan. Aku juga telah melupakan kuning tambatan hatiku. Bila ia datang mengetuk jendela kamarku, aku enggan membukanya dan tidak mau berdansa lagi di atas rembulan bersamanya seperti dulu-dulu, dan pacarku senja kini telah pergi meninggalkanku karena ngambek setelah jarang dilihatnya lagi aku menggeraikan lembut setiap helai rambut indahnya yang beraroma padang rumput basah.

 Dan Aku rasa aku mulai menyukai Ungu.

 

for a girl with a purple-sweater

Posted: October 27th, 2009 under Stupid-Essay - 2 Comments.

Milly, Sahabat Rena.

4879626-lg

Sudah berulang kali aku mengatakan kepada Ayah kalau Milly adalah sahabatku. Kami sering menghabiskan waktu bersama untuk bersenda gurau di dalam kamar, namun Ayah mengatakan kalau Milly bukan sahabatku, mana ada seorang sahabat yang tidak dapat bicara!!

Aku sering mengatakan kepada Ayah kalau Milly adalah Sahabatku. Kami sering merajut senja dengan bermain ayunan di taman yang tak jauh dari rumah, namun Ayah lagi-lagi mengatakan kalau Milly bukan sahabatku, mana ada seorang Sahabat yang tidak dapat bergerak!!

Aku kerap mengatakan kepada Ayah kalau Milly adalah sahabatku. Kami sering belajar  bersama di dalam kamar saat malam merenda, namun Ayah untuk kesekian kalinya mengatakan kalau Milly bukan sahabatku, mana ada seorang sahabat yang tidak dapat membaca, menulis, dan berpikir kemudian bisa diajak belajar bersama!!

Kali ini aku mengatakan kepada Ayah kalau Milly mirip denganku. Ayah berucap kalau itu benar adanya, karena kami berdua jelek dan gendut, tak ubah layaknya seperti babi!!

Kepalaku tertunduk lesu. Garis bibirku mulai tertarik ke bawah layaknya rembulan yang sedang muram. Mataku mulai berkaca-kaca ingin menumpahkan air beningnya. Aku berjalan limbung menjauhi Ayahku. Masuk ke dalam kamar. Menutup pintu dengan hentakan yang memecah keheningan. Aku mengenyakkan tubuh ke ranjang berwarna biru muda. Menutup mukaku dengan bantal seraya menangis dengan sesegukan.

“Milly sahabatku, kenapa Ayah begitu membenciku?”

“Milly sahabatku,  Kenapa Ayah tega menyakiti Ibu?”

“ Membuat mata Ibu menjadi biru dan lebam? “

“Membuat Ibu merintih dalam tangis kesendirian di dalam kamar?”

“Milly sahabatku, Kenapa Ayah tak mati saja?
Read more »

Posted: October 25th, 2009 under Short Stories - 3 Comments.

Bila Aku Tua Nanti.

oldman

Bila aku tua nanti, hal pertama yang kulakukan adalah berdiri di depan cermin. Menatap tubuhku yang kini tampak layu dimakan usia, memerhatikan setiap detail kulitku yang sudah tidak lagi kencang maupun elastis— menyisakan garis-garis kerutan bercampur bercak-bercak noda kecokelatan bercorak polkadot di setiap sudutnya.

Bila aku tua nanti aku akan memanggil isteriku yang tak kalah rapuhya sepertiku. mengajaknya untuk duduk santai berdua di pelataran teras rumah untuk sekadar menikmati hembusan hangat semilir angin sore. bersama kita menikmati suguhan potongan senja yang berhiaskan kerlap-kerlip butiran oranye. Aku menatap jauh kedua bola mata indah isteriku yang nampak begitu sayu tersembunyi dan bergelung di  balik bingkai kacamata kunonya. Mata itu. Ya, mata itulah yang dulu telah membuatku jatuh hati padanya, dan kinipun aku masih sering jatuh hati untuk kesekian kalinya bila menatap kembali kedua mata itu. Kemudian aku akan memegang lembut salah satu tangan mungilnya. obrolan ringan mewarnai setiap gelak tawa yang berasal dari kisah cinta yang pernah kita rajut semasa muda dulu.  Diakhir percakapan aku akan merangkul isteriku seraya memberikan kecupan kecil pada keningnya, tidak lupa mengatakan  “Aku mencintaimu “. bola matahari beringsut pergi meninggalkan senja, dan menceritakan kisah cinta kita berdua kepada gugusan bintang malam di angkasa.

Bila aku tua nanti aku akan pergi ke makam papa-mamaku. Aku akan mengajak anak-anakku untuk melihat makam kakek-neneknya. Aku akan bertutur betapa aku merindukan papa, betapa aku merindukan masa-masa dimana papa mengajariku naik sepeda saat ku berumur 5 tahun, masa-masa dimana papa selalu mengajariku tips untuk belajar matematika dengan cepat dan cerdas, dan masa-masa dimana papa kerap memberiku tips tentang 1001 cara untuk menaklukan hati seorang wanita . Namun sayang dibalik puluhan tips yang ia berikan tak satupun pernah berhasil ku coba, Entah mungkin karena aku memang tidak berbakat sama sekali baik dalam hal matematika maupun dalam hal menaklukan hati seorang wanita. aku juga akan menuturkan betapa aku merindukan mamaku,  aku merindukan suasana pagi yang cerah saat ia selalu membangunkanku untuk pergi ke sekolah, saat ia menyiapkan selapis roti tawar dan secangkir susu hangat untuk sarapan pagiku, dan saat ia menemukan berlembar-lembar hasil nilai ulangan jelek matematika yang kerap ku sembunyikan di bawah lemari.

Bila aku tua nanti aku akan memberitahu hobiku yang unik—kepada cucu-cucuku— bahwa dahulu aku kerap curhat bersama anjingku di tengah malam. Bersama anjingku, aku bisa dengan leluasa mengungkapkan isi hatiku kepadanya tanpa rasa malu. Tentang bagaimana cokelat valentineku ditolak mentah-mentah oleh seorang tambatan hati, tentang bagaimana seluruh uangku habis dirampas oleh preman begundal hingga memaksaku untuk pulang jalan kaki, tentang bagaimana aku mendapatkan surat cinta yang pertama dari orang yang ku sukai. Walau tentu saja anjingku hanya merespon dengan cara menggoyang-goyangkan ekor dan menjulurkan lidahnya sepanjang curhatanku.

Bila aku tua nanti,  bila napasku belum habis, dan bila jantungku belum berhenti berdegup. Aku ingin membuat nisan sebagai tempat peristirahatanku nanti untuk terakhir kalinya. Nisan itu harus berukirkan kata-kata favoritku :

Deni oktora

8-oktober-1985 — 23 november 2054

Now I’m dead

I’m neither going to heaven nor hell

I’m just fucking d-e-a-d.

Posted: October 20th, 2009 under Stupid-Essay - 1 Comment.

Negeri Pelangi, Peri Hujan, dan Mama.

Rainbow_Without_Rain_by_DarkZombie2500

Malam semakin larut. Langit diluar kian berkabung. Aku termangu menatap jendela kamar kecilku, Menanti seseorang yang sangat kucintai untuk segera pulang. Rinai air hujan perlahan jatuh titik demi titik membasahi kaca jendela. Suara tempias air yang mengenai kaca jendela terdengar bagai sebuah simfoni yang lembut bagiku—suaranya bertalu-talu. Aku dapat mendengar peri hujan berbisik memanggil pelan namaku, mengajakku untuk segera keluar untuk menari bersamanya. Berdansa bersamanya. Merinai lagu cinta berdua bersamanya. Bercinta bersamanya. Hanya aku dan peri hujanku di negeri nan jauh di atas—Negeri pelangi.

Aku mendengar pintu kamarku berderit—dibuka oleh orang yang sudah lama kutunggu sedari tadi. Mamaku, ia terlihat begitu lelah sehabis pulang kerja dari kantor, namun kecantikannya masih tetap berpendar dengan hangat di wajahnya. Aku mengagumi kecantikan Mamaku, matanya yang indah, bibir tipis mungilnya, kaki jenjangnya, dan—hal yang amat ku kagumi dari dirinya—tentu rambut hitam legam yang kerap menari-nari bila ia sedang berjalan.
Read more »

Posted: October 12th, 2009 under Short Stories - No Comments.

Cathy, Taman, dan Aku

garden_bench

Cathy, sekarang aku sedang tercenung menatap sebuah taman kecil yang berdiri dipeluk semilir angin sore. yah..taman kecil, masih ingatkah kamu dengan taman itu?, Taman tempat kita dulu kerap bermain, bercerita, dan berlarian untuk mengejar kupu-kupu, capung , kepik, dan kunang-kunang?. Taman tempat kita dulu saling berbagi sepotong cerita dengan rasa  cinta yang bertaburan di atasnya?

sudah hampir 18 tahun lamanya, apakah kamu masih mengingatnya?

Cathy, sekarang mataku tertumbuk kepada sosok bangku tua yang berada di taman itu. ia masih saja teronggok begitu saja sendirian tanpa teman, masih ingatkah kamu dengan bangku tua itu?, bangku taman tempat kita dulu sering menghabiskan waktu dengan duduk bersebelahan bermandikan cahaya hangat mentari sore. aku dudukl membaca buku favoritku sementara kamu jatuh tertidur dalam dekapanku. kita sering lupa waktu hingga tirai malam menutup dan membangunkan kita dengan sinar bulannya yang ramah

sudah hampir 18 tahun lamanya. apakah kamu masih mengingatnya?

Cathy, mataku kini sedang menatap nanar permainan ayunan usang yang sedang menari kecil akibat ditiup angin. masih ingatkah kamu dengan permainan ayunan itu? dulu kita sering bergantian duduk disana sementara salah satu dari kita akan mendorongnya dari belakang. aku suka gelak tawamu ketika kamu bahagia saat aku mengayunmu. Namun bagian yang paling aku suka adalah saat raut wajahmu memancarkan ketakutan bila aku mengayunkanmu terlalu kencang hingga membuatmu berteriak “turunkan aku!”, setelah kamu turun dari ayunan kamu dengan cepat mencoba mengejarku untuk memukuliku. Tentu saja adegan itu mengingatkanku akan film kartun Tom and jerry.

sudah hampir 18 tahun lamanya. apakah kamu masih mengingatnya?

Cathy tadi pagi aku bertemu dengan ibu Nina, wali kelas kita 18 tahun yang lalu. kini ia terlihat rapuh, ringkih dan tua. aku bisa melihat bagaimana waktu telah menggerogoti tubuhnya. namun senyumnya masih sama seperti dulu. kuat. hangat. lembut, dan indah. masih memiliki sihir untuk selalu membuat orang betah berlama-lama berbincang dengannya.

kami menyempatkan diri untuk duduk di bangku taman – tempat kita dulu biasa duduk – untuk sekadar membuka tiap lembar kenangan yang barangkali sudah usang dan tertutup dengan debu.

“Aku tidak akan pernah lupa dengan Cathy.” katanya dengan suara ringkih.

keheningan menghembuskan napasnya di sekitar taman, membuat tak satu patah katapun keluar dari masing-masing mulut kita untuk melanjutkan pembicaraan.

“Aku tidak akan pernah lupa suaranya saat ia membaca karangannya” katanya dengan senyum yang mengembang di balik wajah keriputnya.

“iya bu, aku tahu kalau bahasa indonesia merupakan pelajaran favoritnya, ia paling suka ketika disuruh membuat karangan atau pusi.ia biasa menghabiskan waktu untuk membuat puisi atau cerita di mobil jemputan. tampaknya ia mencintai sastra, bila ia masih ada sekarang aku yakin saat ini ia mungkin sudah menjadi penulis novel, jurnalis, kolumnis atau mungkin menjadi seorang sastrawan besar indonesia. jawabku sambil menatap nanar kosong senja yang menyingkap perlahan-lahan dengan semu.

“menurutmu siapa yang pantas disalahkan atas peristiwa yang menghilangkan nyawa cathy?” tanya bu nina dengan suara bergetar.

aku hanya terdiam. pikiranku membeku tak dapat menyusun kata-kata untuk membentuk suatu rangkaian.

“aku tidak tahu bu. dan aku tidak mau tahu, semakin aku memikirkan mengenai siapa yang salah atas kematiannya aku menjadi tenggelam dan hanyut dalam lubang kepedihan yang menganga.”

“betulkah? jadi tidak ada yang disalahkan atas peristiwa kematian Cathy menurut kamu?”

“banyak yang bisa disalahkan atas peristiwa kematian Cathy bu, kita bisa menyalahkan pihak sekolah yang tidak memberikan perhatian dan perlindungan kepada anak muridnya, kita bisa menyalahkan orang tua Cathy yang tidak menjemput dirinya dengan tepat waktu saat itu, dan yang terakhir sudah selayaknya kita menyalahkan pelaku yang tega berbuat hal itu kepada Cathy.” kataku dengan emosi yang berapi-api.

bu nina kini menyandarkan punggung rentanya ke belakang kursi. sesekali ia menghela napas. air mata terlihat mengembang dari balik kacamata tebalnya.

“Aku menyalahkan Tuhan” katanya dengan nada agak tinggi.

“Kenapa ibu menyalahkan Tuhan?” tanyaku penasaran.

“Bukankah Tuhan yang memiliki rencana atas kehidupan dan kematian seorang” jawabnya dengan nada sinis. “tidak ada yang pantas disalahkan kecuali Tuhan itu sendiri. bukan salah pihak sekolah yang teledor karena tidak menjaga murid-muridnya saat jam pulang sekolah, bukan salah orang tua Cathy yang telat menjemputnya tepat waktu dan bukan salah seorang pria pedophilia yang tega memerkosa  kemudian membunuh serta memotong-motong tiap bagian tubuh Cathy.”

percakapan kami berlangsung selama dua jam di bangku taman ditemani sepotong senja sore.

Taman ini terlihat sendu dan muram, sepertinya ia mengerti apa yang kami bicarakan tentang Cathy.

Taman dimana kamu bisa berlarian mengejar kupu-kupu, capung, atau kepik seperti yang biasa kita lakukan.

Taman dimana kamu bisa duduk bermandikan cahaya hangat mentari sore seperti yang biasa kita lakukan.

Taman dimana kamu bisa menghabiskan seluruh hidup tanpa lekang oleh waktu.

Taman dimana kuharap kamu masih setia menungguku.

Tunggu aku Cathy.

Tunggu hingga aku datang  menghampirimu dan memberikanmu pelukan hangat.

Dan kita akan menghabiskan setiap keping kehidupan kita bersama kembali di Taman Firdaus.

Posted: August 7th, 2009 under Short Stories - 4 Comments.

L.O.V.E & H.O.P.E

LOVE n HOPE

sudah lama saya jatuh cinta dengan kata L.O.V.E & H.O.P.E. entah kenapa saya menyukai kata-kata tersebut. mungkin karena kesederhanaan yang dimilikinya. yups, kata-kata itu masing-masing hanya memiliki empat huruf dimana terdiri dari dua huruf vokal dan dua huruf konsonan, sangat sederhana sekali bukan?

Namun dibalik kesederhanaan yang dimilikinya, kata-kata itu memiliki suatu daya magic yang luar biasa bagi diri saya.

H.O.P.E : adalah kata favorit saya. saya selalu mengucapkan kata itu sesering mungkin di dalam hati saya ketika saya sedang merasa : lelah, down, sedih, fucked up, putus asa, collapsed dan segala hal yang seakan membuat dunia saya runtuh seketika. entah kenapa setelah saya menyebut kata itu keras-keras di dalam hati, semangat yang tadinya seakan-akan sudah terlihat menjauh pergi meninggalkan saya tiba-tiba secara perlahan namun pasti semangat itu datang kembali layaknya api lilin kecil yang menerangi jiwa saya dan bersiap memberikan spirit baru kepada saya.

pengalaman pertama kali dalam mencari pekerjaan sehabis lulus kuliah pada januari-08 lalu adalah pengalaman dimana kegagalan selalu menjadi teman akrab saya saat mencari pekerjaan.

puluhan surat lamaran sudah saya kirim baik melalui pos maupun melalui email. beruntung banyak perusahaan yang bersedia memanggil saya terlebih dahulu untuk mengikuti psikotests – syarat mutlak sebelum dinyatakan diterima dan diangkat menjadi karyawan. singkat cerita dimana ketika saya mencapai suatu titik jenuh karena terus-terusan mendapatkan panggilan dari beberapa perusahaan namun hasil psikotest selalu saja failed, saat itu saya hanyabisa berkata “fuck” keras-keras ketika handphone saya tak kunjung juga berdering dan berharap akan ada suara sang HRD menyebutkan nama saya menyatakan kalau saya telah lulus psikotest dan akan diangkat menjadi karyawan. hal ini sangat melelahkan dan membosankan, apalagi sudah banyak buku-buku jenis psikotest yang sudah dibeli oleh papa saya namun hasilnya tetap saja NOL besar. tidak satu perusahaanpun menghubungi saya kembali dan menyatakan saya telah lulus psikotest. saya masih ingat ketika saya mengikuti salah satu sesi psikotest di sebuah perusahaan shipping line asing, saat itu saya sedang bergumul dengan test angka atau numerik yang kerap membuat kepala saya pusing dan ingin rasanya muntah.  saat itupun saya yakin klo psikotest kali ini besar kemungkinan akan gagal seperti test-test yang sebelumnya, disaat saya sedang merasa kosong, hampa, dan patah semangat, iseng-iseng saya menulis kata H.O.P.E di pergelangan tangan saya dengan menggunakan bolpoin faster – favorit saya. setelah saya tuliskan dengan huruf terang dan menyala serta saya pandangi kata H.O.P.E tersebut, tiba-tiba saya merasa yakin kalau suatu saat perjuangan saya tidak akan sia-sia dalam mencari pekerjaan.

singkat cerita pada akhirnya H.O.P.E itu datang juga menghampiri saya ketika salah satu perusahaan yang saya lamar memanggil dan menerima saya menjadi karyawan.

saya sadar bahwa saya tidak sendirian ketika mengalamai masa-masa perjuangan dalam mencari pekerjaan, teman-teman satu kampus sayapun hingga saat ini masih banyak yang belum mendapatkan pekerjaan dan masih berkutat dengan membeli harian umum KOMPAS edisi sabtu dan minggu guna mencari lowongan pekerjaan, tidak lupa juga dengan mengirim banya email melaui sarana pencari kerja online. tapi saya yakin H.O.P.E akan selalu datang bagi orang yang tengah berusaha dan yakin kalau segala usahanya tidak akan sia-sia tapi akan membuahkan hasil sesuai yang kita harapkan.

Posted: June 29th, 2009 under Stupid-Essay - 4 Comments.

Ketika Ku jatuh cinta dengan Citra dan Axe part 1

10 tahun yang lalu saat gw masih duduk di bangku SMP (kira2 kelas 2 SMP  / saat itu umur gw berkisar antara 12 taon – 13 taonan) gw jatuh cinta untuk pertama kalinya dengan cewek yang bernama Citra.

dia murid baru di sebuah lembaga les bahasa inggris di kelas gw tepat nya di LIA galaxy. klo gak salah kita masih level STEP  saat itu, yaitu level untuk pemula pelajar bahasa inggris tingkat SMP. gw masih inget banget saat Mr daniel ( guru kelas gw) memperkenalkan dia ” hey class we have a new student right here.. her name is citra.. citra would you please introduce yourself to your friend?. lalu citra menjawab : “hi my name is citra”. dia mengucapkan dengan sangat simple dan jelas kepada kita semua. lalu Mr daniel menjawab ” is it enough?” citra menjawab lagi2 dengan simple-padat-dan-jelas ” yes” Mr daniel membalas “don’t you wanna tell your friends about your interests or hobbies??” citra menjawab  “no” sambil menggelengkan kepalanya. “well ok if you think it’s enough you can choose your chair among your friends” Mr daniel pun mengakhiri acara introduction

Terlihat jelas klo citra adalah tipe cewe pemalu, di balik kacamata nya itu dia tidak pernah berani menatap langsung ke kita saat acara perkenalan yang baru saja dilakukannya. Lalu citra mencari tempat duduk yang posisinya tepat berada di seberang gw, saat itu yang terpikirkan di benak gw adalah “beautiful” kata sederhana yang gw tau saat itu.
Read more »

Posted: January 31st, 2009 under Stupid-Essay - 7 Comments.

Ketika Ku Jatuh Cinta dengan Citra dan Axe Part 2

note : baca dulu postingan Ketika Ku jatuh Cinta dengan Citra dan AXE part 1

Hari-hari gw dipenuhi dengan romantika cinta-pertama-anak-SMP yang begitu dahsyat saat bertemu dengan citra di LIA galaxy acik-acik, gw pun akhirnya memiliki kesempatan untuk duduk di samping dengan dirinya, bahkan gw dan dia bisa berkenalan dan sekedar basa-basi, hal yang sangat gw inginkan ketika pertama kali melihatnya hadir di kelas saat acara perkenalan dirinya (introduction).

lagi pula saat itu Citra selalu menjadi partner tetap gw untuk dialogue chapter apapun,gw gak tau kenapa tapi yang jelas Mr daniel selalu memilih Citra untuk dipasangkan dengan diri gw, padahal teman-teman gw yang lain ada yang berubah pasangannya dalam mengerjakan dialogue, dan gw yakin Mr daniel saat memasangkan pasangan-pasangan kita bersifat acak atau random, tapi ya itu ! lagi-lagi citra selalu dipasangkan dengan diri gw. hemmm… tengs ya Mr daniel !! .

gw pun akhir nya bisa berkenalan dengan diri nya :
Read more »

Posted: February 4th, 2009 under Stupid-Essay - 6 Comments.

When Rain Remains Some Memories

when-rain-remains1

Musim hujan selalu mengingatkanku dengannya yang duduk tepat di depanku dan bertutur :

dia : ” deni, kamu tau gak semalam aku mimpi apa? ”

Aku: “hah? emang kamu mimpi apa?”

dia :  ” aku…..aku….. mimpiin kamu semalem…”

Aku  : “oh? di mimpi itu kita lagi ngapain??”

dia : “kita berdua lagi jalan di tepi pantai sambil pegangan tangan…lalu kita nyari batu-batuan di antara pasir pantai..  dan kamu menemukan satu batu yang lumayan indah dan memberikannya kepadaku….gimana menurut kamu?

Aku : ” beneran mimpinya ?”

dia : ” iya” *mengangguk*

Aku : ” aneh…”

dia : ” hah? aneh apanya?”

Aku : ” mmm…aneh aja, karena aku gak pernah mimpiin kamu, tapi malah kamu yang mimpiin aku segala..romantis banget lagi mimpinya..”

dia : ” gak papa kok..aku juga gak minta kamu untuk mimpiin aku”

Aku : *tersenyum malu*

dia : ” eh, uda jam istirahat !, makan yuk di kantin?”

Aku : ” aku disini ajah, aku….aku…males aja makan di kantin..”

dia : ” terus kamu mau ngapain sendirian di dalem kelas?”

Aku : “mmm….aku mau ngeliat hujan aja dari atas sini..”

dia : “hah?? ihh…kamu aneh… aku duluan ke kantin ya? dah…”

Aku : ” eh, makasih ya !”

dia  : ” makasih apanya ?”

Aku : “makasih uda mimpiin aku ”

dia : * tersenyum*

Musim hujan selalu mengingatkanku ketika berlari di bawah langit gelap dengan  hujan yang datang mengelilingi diriku,  aku berlari, mengambil handphone dari saku celana lalu menelepon dirinya untuk mengatakan klo aku menyukainya.

Musim hujan selalu mengingatkanku dengan ban motor yang bocor, dan tidak dapat menemukan tukang tambal ban sama sekali, aku hanya bisa duduk di halte. Termenung. Tercenung. Menatap ke atas. Ke langit gelap yang sedang menumpahkan bulir-bulir air dengan derasnya.

Musim hujan selalu mengingatkanku klo aku pernah bangun dari tidur untuk kencing di tengah malam, aku berjalan ke kamar mandi lalu kencing dengan perasaan mengantuk, dan sekelebat suara petir terdengar menggelegar sangat keras, membuatku berlari hingga terpeleset.

Musim hujan selalu mengingatkanku, kalau aku pernah duduk termangu di depan lobby LIA galaxy, menunggu kedatangan citra yang tak kunjung datang.

Musim hujan selalu mengingatkanku, kalau diriku pernah jatuh tersungkur di tanah karena dikeroyok oleh tiga preman banci.

Musim hujan selalu mengingatkanku, kalau aku pernah ditabok supir angkot. karena pernah melontarkan kata “anjing” ke dia.

Musim hujan selalu mengingatkanku, kalau anjingku pernah keluar dari rumah. Aku mencarinya selama 30 menit di komplek perumahan dengan setangkai payung berwarna biru muda. Hingga pada akhirnya aku mendapati anjingku sedang menatap nanar seekor anjing betina yang ada di rumah entah-siapa, aku bergegas menggendong anjingku, kemudian berucap kepadanya ” aku juga pernah seperti kamu, dan itu sia-sia karena dia gak  keluar dari rumahya, jadi ayo kita pulang.” lalu ia hanya memandangiku dengan tatapan sayu dan muram.

Musim hujan selalu mengingatkanku, klo ia pernah datang ke rumah dengan dandanan ala Avril lavigne, dia tahu klo aku menyukai Avril lavigne. aku hanya tersenyum kecil melihatnya.

Musim hujan selalu mengingatkanku, klo aku pernah main bola dengan teman-teman SMP. Tertawa dan tersenyum karena masing-masing dari kita tidak mampu menendang dengan benar karena lapangan yang sangat amat licin.

Musim hujan selalu mengingatkanku, klo seorang teman baik tega merebut hati cewek yang kusukai.

Musim hujan mengingatkanku, klo ia mau menemaniku ke gereja untuk mengikuti perayaan natal, padahal ia bukan seorang nasrani.

Musim hujan mengingatkanku, klo aku pernah kencing di selokan, dan beberapa menit kemudian temanku tercebur di selokan itu. Aku hanya bisa membantunya keluar dari selokan, sambil bertanya

“masih anget gak?”

Lalu alisnya bertemu sambil mengucap “hah, anget apanya?”

“gak papa” Tukasku.

Posted: February 7th, 2009 under Stupid-Essay - 9 Comments.

The day I Met Michelle

Senin – 8 Oktober-2012 @ 10:45 PM

Aku masih saja berdiri di depan Lobby kantorku, menatap dengan kosong ke arah langit gelap yang sedang menumpahkan air hujan dengan derasnya. ku lihat jam ESPRIT digital berwarna hitam yang melekat di pergelangan tangan kiriku, jam menunjukkan pukul 10:45 PM.

shit…ini terlalu larut” umpatku.

belum lagi aku harus menyebrang melalui jembatan penyeberangan untuk menuju halte agarku bisa menunggu Bus yang ke arah bekasi, tapi setelah ku melihat jamku yang kini menunjukkan pukul 10:48 PM, ku ragu kalau masih ada bus selarut ini.

well mungkin malam ini adalah malam yang paling larut aku berkerja, ini semuaku lakukan karena memang semakin banyak dokumen yang harus aku kerjakan akibat Bryan teman satu teamku yang telah resigned dan dengan terpaksa aku harus mem-back up semua pekerjaannya hingga sekarang. kuharap team HRD segera menemukan pengganti Bryan agarku tak pulang selarut ini lagi.

ku lepaskan tas punggung Ripcurl yang kugendong lalu ku taruh di bawah lantai. malam ini begitu dingin. aku bisa merasakan embun yang tampak di kacamataku, tak jarang aku mengusap kacamata berkali-kali memakai dasi yang masih melekat rapi di kemeja biru ku. aku hanya ditemani 2 security yang sedang berjaga di gedung kantor ini, salah satu dari mereka menawariku untuk meminum kopi, tapi ku tolak dengan alasan aku tidak pernah menyukai kopi.

tiba-tiba handphone ku berdering dengan ringtone lagu all the small things nya blink-182, ku ambil Handphone Nokia 6220 Classicku dari kantong depan kemejaku.

“halo, haris kamu dimana????”

“halo mam,  .aku masih di kantor, tepatnya di lobby, aku lagi menunggu hujan berhenti”

” aduh har….. ini udah larut malam banget loh, disini juga hujan deras banget,  mama khawatir sama kamu…”

” aku gak papa kok…aku mungkin akan naik taxi, aku akan menghubungi blue bird dan memesan taxi deh…don’t worry mam… I’m grown up…”

“sudah, kamu tidak perlu memesan taxi. ini mama dan papa sudah naik mobil untuk menjemput kamu, kamu masih di gedung menara kadin ya??”

” ya ampun.. pake di  jemput segala kaya anak TK, iya aku masih di dalam gedung nih..”

“kamu bisa nunggu di HALTE  aja?? biar mama-papa menjemputmu di HALTE biar mudah”

“oh iya..bisa kok..”

” kalo nyebrang jembatan hati-hati ya har, kamu pinjem payung dulu deh sama satpam di gedung kamu itu kalo ada”

” oke mam…makasih banget ya…”

” ya udah tunggu mama sekitar satu jam lagi ya”

” oke deh mam”

*klik*

tadi itu mama yang menelponku. mama selalu khawatir dengan keselamatan ku.  Semenjak aku SD mama selalu overprotected banget dengan diriku, ia selalu mengantar aku berangkat ke sekolah dan menjemputku sepulangnya. sebenarnya aku sama sekali tidak ingin mama terlalu memanjakan diriku layaknya seperti anak kecil yang tak pernah dewasa. hanya saja aku sadar, ini mungkin karena aku menjadi anak satu-satu nya dikeluargaku, yang tentu saja cukup masuk akal bila mama & papa tidak ingin ada hal yang buruk terjadi kepada anak semata wayang ini nantinya.

ku menuju ke salah satu security yang tadi menawariku kopi, tampak nya ia sedang asyik membaca harian umum KOMPAS di balik meja coklat bertuliskan SECURITY dengan kopi hangat di tangan kirinya.

” maaf pak, ada payung tidak ya?? saya ingin meminjam payung, karena saya ingin menyebrang ke HALTE seberang pak”

” oh iya..sebentar saya cari dulu ya pak di pos…”

ku lihat ia segara berdiri dan berjalan menuju pos security yang berada di luar gedung, dekat ruang parkiran motor..

ku menunggu sekitar 8 menit. menit ke 10 securtiy tersebut akhirnya muncul dan tersenyum sambil mengatakan penyesalan ” maaf pak, lagi gak ada payung tuh di pos, biasanya ada sih..cuman kayanya di bawa atau di pinjam sama karyawan lain pak, apalagi dengan kondisi cuaca seperti sekarang ini..banyak karyawan yang meminjam payung ke pos..namun banyak juga yang tidak mengembalikannya..”

” oh ya uda gak papa ..maaf kalau merepotkan bapak, terimakasih ya pak.” aku menjawabnya

bagus…ini adalah hari yang takkan pernah ku lupakan sepanjang hidupku. lalu ku ambil tas back pack ripc curlku yang tadi ku letakkan di atas lantai, dan ku angkat tepat ke atas kepala, guna melindungi kepala dan bagian atas badanku dari siraman air hujan yang amat deras ini.

lalu aku berdiri dan segera mengambil posisi siap untuk segera berlari kencang melewati jembatan penyebrangan dan berharap akan segera sampai di HALTE.

ku menarik nafas dalam-dalam, dan ku berlari sekuat tenaga menembus tumpahan air hujan di sekelilingku, ku bisa merasakan celana ku basah namun tampaknya tas ini cukup melindungi bagian kepala dan badan atasku dari air hujan.

ku bisa merasakan nafasku yang mulai tersengal akibat kelelahan berlari, namun ku berusaha agar terus berlari karena ku bisa melihat di bawah kalau HALTE tempat tujuan ku berteduh tinggal 4 meter lagi.

Ku menuruni anak tangga jembatan penyebrangan dengan cepat, hinggaku berhasil masuk ke HALTE.

sesampainya di HALTE aku melihat seorang perempuan ras caucasian atau ras kulit putih, atau pada umumnya masyarakat indonesia mengenalnya dengan istilah “bule”

ia sedang duduk di halte sambil membersihkan sepatu high-heelsnya dengan tissue, mungkin ia tidak mau sepatu high-heelsnya rusak terkena air hujan pikirku.

ku meletakkan tas back pack ripcurl ku di dudukan halte, lalu perempuan caucasian itu melihatku kemudian ia tersenyum manis ke arahku..

hi, can I sit down here?” aku bertanya kepadanya

off course, this is public place isn’t it? ” dia menjawab sambil tersenyum kepada ku

oh? thank you

ku memperhatikan perempuan ras caucasian itu dengan seksama dari ujung atas rambutnya hingga ujung kakinya. dia berambut panjang hitam sebahu, bola matanya berwarna biru, sebiru indahnya langit yang sering kupandang pada pagi hari melalui jendela ruangan kantorku, bibirnya tipis mungil dan terlihat manis. kulihat ia memakai kemeja berlengan pendek berwarna merah jambu dengan motif bunga mawar yang ada di depannya, ku bisa melihat kalung salib berwarna putih kemilauan menyinari gelapnya malam ini yang menggantung di lehernya yang indah dan putih itu. kulihat ia memegang tas yang sering dipakai perempuan pada umumya dan pada tangan kirinya kulihat ia memegang buku berjudul kamus besar bahasa indonesia yang sangat tebal.

ku duduk di sampingnya…lalu ia lagi-lagi tersenyum manis kepadaku, ketika ia tersenyum wajahnya mengingatkan ku pada aktris cantik bernama Audrey tautou.

lalu ku berusaha menyapanya di tengah malam yang sangat dingin hingga terasa menusuk semua tulangku, ditemani dengan guyuran air hujan yang sangat deras membuat kedua tanganku sedikit gemetaran akibat menahan dingin.

it’s so cold isn’t it??”

oh really?? to me it’s not too cold….” ia menjawab lagi-lagi dengan tersenyum..

hi..my name is haris…” ku menjulurkan tanganku kepadanya sebagai pertanda memberi salam perkenalan.

I’m michelle stanley, just call me michelle..” ia menyalami tanganku.

ku bisa merasakan dinginnya tangan michelle yang kecil dan pucat tersebut namun halus.

just wonder,  where are you going? I mean..are you just…coming late from your office and confused just as i am??”

yup, woww….We have a same bad luck right??”

ha-ha-ha-ha-ha…yah…you’re right…maybe we did something wrong in the past and God punish us now, being trapped in the bus station all night long…” ku mengatakan hal tersebut sambil tertawa..

you’re so funny…” ia tersenyum..

where do you go to work??”

I work in british council indonesia as  business relation officer” jawabnya “and how about you?” tanyanya/

oh, I work in financial company, just look straight ahead and do you see that building?? that’s my office.”

oh, I see.. can’t believe… it seems like far away when it rains from here...”

yeah it is…”

by the way michelle are you waiting for someone to pick you up here??”"

yes, I’m waiting driver from british council indonesia to pick me up here..I just call him a 20 minutes ago, but the driver hasn’t come yet.”

me too…I’m waiting for my parents to pick me up here…”

wow…how lucky you are to have such a good parents like that..”

he..he…he..thanks..that’s why I love them so much too..”

emmm…how about you michelle?? where are your family??”

my Family Living in the states..in the california, san diego

cool.. I never been to America..someday If I had enough money I wish I could go there

really??…You can go with me if you want to” ajak michelle sambil tertawa

he..he..he…he… thanks for the invitation..” jawab ku sambil tertawa juga

kita diam beberapa saat

lalu ku menatap langit yang gelap dalam beberapa menit, hingga michelle bertanya.

hey, what are you looking at??”

nope, just wonder…everytime I look at the sky I believe that there must be a living creatures just like us outside there…”

is it alien?? .do you mean an alien…do you believe in alien??” michelle bertanya dengan nada seolah-olah, hei..kamu ini sudah dewasa..alien hanya ada di pikiran anak-anak..”

yup, I do believe in an alien michelle…look at the stars outside…there must be a billion stars in outer space…if there is an billion stars, so how could only earth where has a living civilization…if  it happen I think God has wasted billion stars outside..

ku lihat michelle diam sebentar beberapa saat sambil menatapku, pada saat seperti ini michelle terlihat sangat cantik sekali…seandainya ia adalah kekasihku, aku akan mengajaknya makan siang di kantorku hingga semua teman-temanku berdecak kagum melihatku—bahwa aku bisa memiliki pacar yang cantik dan anggun bagaikan malaikat..

I don’t believe in an alien..but I do believe in time-machine…” michelle menjawab

time-machine??”

yeah, time-machine…” I believe that someday someone is gonna build a time-machine for the world..”

me too…I do believe in time-machine..” aku menjawab michelle

really?? what make you believe??”

it’s simply…coz einstein believe in it too.. since I believe  what-ever einstein said..so I believe in time-machine too..”

ha-ha-ha-ha-ha

ku bisa melihat michelle tertawa kecil karena perkataan ku tadi, tak kusangka ternyata ia menjadi lebih manis bila tertawa.

so what you gonna do if there is time-machine??” tanya michelle kepadaku

I wanna see the next 10 years ahead !!”

why?” michelle kembali bertanya.

I wanna see what my wife looks like, I wanna see my children looks Like, and I wanna see everything that happen to me in the next 10 years, and how about you michelle??” tanyaku

I wanna go to the day when I was a kid…”

why??”

to me childhood is all about the day that you can be a dreamer all day…and to be grow up is sucks !  coz you need to face the reality

ketika aku mendengar michelle berkata sperti itu, aku bisa melihat wajahnya yang memancarkan kebahagiaan, sepertinya ia sangat merindukan masa kecilnya.

kita diam beberapa saat, namun kita saling bertatapan sambil tersenyum satu sama lain

do you have a girlfriend?? ” tanya michelle kepadaku

hah?? me??, mmmm…” ku diam beberapa detik

hey..what take you so long?? it’s simple question, just say “yes” or “no” to answer it..”

oh…me.? actually I don’t have, I don’t have a time to think about a girlfriend right now..coz my father has retired from his office last year and I need to save money, I mean… a lot of money for my parents…”

so cute..your parents must be proud of yo

nope, I think I’m the one who must be proud to have them

kita diam beberapa saat, hingga aku bertanya hal yang sama kepada michelle.

how about you michelle?? do you have a  boyfriend in Indonesia?? or in the states??” tanya ku penasaran

I used to have…but we broke up last year ago

oh, I’m sorry… I didn’t mean to hurt your feelings..”

it’s okay…nevermind, let’s talk about another topic..”

ku melihat michelle sesekali menghela nafas sambil melihat ke langit yang gelap yang masih saja menurunkan air hujan dengan derasnya..

can I ask you something?” tanya michelle

yah??” ku menjawab

what’s your typical girlfriend??” tanya michelle kepadaku

sungguh ini pertanyaan yang benar-benar aneh dan sangat bersifat pribadi, aku dan michelle bahkan baru berkenalan selama 30 menit, tapi obrolan kita seperti layaknya sahabat yang sudah lama berteman…diriku merasa nyaman dengan michelle..mungkinkah Tuhan mengirimkan salah satu malaikatnya ke HALTE ini untuk menemaniku mengobrol?

my typical girl-friend??”

yup, your typical girl-friend

can I answer it in bahasa indonesia??”

why?” tanya michelle

coz it’s hard to find the right words in english to desribe my typical girl-friend” jawab ku asal.  ku melihat michelle yang tiba-tiba tersenyum geli setelah aku mengatakan hal itu.

go a head ” jawab michelle

but…do you understand bahasa??? tanyaku penasaran kepada michelle

” just a little bit, and I’m still learning” jawab michelle sambil menunjukkan buku kamus besar berbahasa Indonesia kepadaku yang masih berada dalam genggamannya.

lalu ku menjelaskan dengan menggunakan bahasa indonesia, sambil menatap matanya.

” aku ingin punya cewek seperti yang sedang duduk disampingku malam ini di HALTE,  yang sedang menggunakan kemeja berlengan pendek berwarna merah jambu, mengenakan kalung salib berwarna putih yang menyinari bagian lehernya dengan indah, memiliki rambut hitam panjang sebahu, memiliki mata biru yang indah dan memiliki senyuman yang dapat membuat orang langsung jatuh hati kepadanya.  ia sama seperti ku, sedang berharap agar hujan cepat berhenti. aku bisa merasakan kalau ia adalah wanita yang tepat untukku, ia memiliki semuanya, mata biru yang indah, senyum yang manis, dan wajah secantik audrey tautou, ia memiliki imajinasi yang tinggi sepertiku. aku percaya dengan adanya alien, sedangkan dirinya percaya akan adanya mesin waktu. bila mesin waktu itu benar-benar ada, maka aku ingin mengulangi kejadian malam ini.”

done !!, that’s my typical girlfriend !! ” jawabku

gosh..that’s a lot of words!! ” bilang michelle kepadaku

It’d be need more a lot of words if  I describe it in english..” jawab ku

” what does it mean? ” michelle bertanya..

it means…I believe in god that someday He would give me the right one for me

you lied, I know you lied ” michelle menjawab

no I didn’t

I heard that you said audrey tautou, it must her you’re typical girlfriend rite??” michelle bertanya kepada ku dengan curiga, tak kusangka ia mendengar kata-kata audrey tautou dalam perkataan ku tadi.

yeah a little bit…” jawabku.

tiba-tiba ku melihat lampu sorot mobil phanter berwarna abu-abu dari kejauhan..ku berpikir ini pasti mobil papa & mama ku yang menjemput. ku melihat mama, membuka jendela mobil, dan berteriak

” haris ayo naik, ayo cepet nak, nanti kamu basah ayo “

aku langsung berdiri, dan secara perlahan aku menatap michelle

here they are, your beloved parents come to pick you up ” michelle berkata.

how about you?? your driver hasn’t come yet?? “

don’t worry about me…I’ll be fine..” jawab michelle

michelle…”ku memanggilnya

yup

can we meet again??, I mean in another place?? not in this bus station anymore??” ku mengajak michelle, ku tahu ini terlihat seperti seorang cowok yang sedang mengajak nge-date cewek, dan aku yakin michelle sadar akan hal itu.

michelle hanya bisa tersenyum  kepada ku sambil mengatakan

I want to..but I think I can’t

why ??” jawab ku

coz I’m going back to the states next week

ku hanya bisa diam tertunduk lesu…sementara papaku memberikan tanda klakson mobil agarku segera cepat naik ke mobil.

” haris!! ayo naik !! ” papa berteriak dari mobil

okay..michelle bye-bye…” ku melambaikan tanganku kepadanya..

take care…” michelle menjawab sambil tersenyum manis kepadaku serta melambaikan tangannya kepadaku.

ku segera masuk ke dalam mobil dengan buru-buru, dan mobil pun berjalan. mama memberikanku handuk untuk mengeringkan bagian kepalaku yang terkena air hujan, tapi ku menolaknya, karena aku sudah memiliki sapu tangan yang ku simpan di dalam tasku. ku rogoh tasku dan berusaha ku dapatkan sapu tangan milikku.

lalu ku mengambilnya, tapi alangkah kagetnya ketika yang aku temukan adalah sapu tangan bukan milikku, sapu tangan ini berwarna coklat tua sementara punyaku berwarna putih. aku masih terheran-heran dan berpikir

” sapu tangan kepunyaan siapa ini?? ” “kenapa bisa ada didalam tasku??”

Lalu kubalik bagian belakang sapu tangan itu, dan ku melihat ada tulisan yang tergores dengan indahnya.

meet me @ chapel sancta ursula on sunday

michelle

ku hanya bisa tersenyum..sambil berkata..” ini michelle..”

Posted: March 3rd, 2009 under Short Stories - 45 Comments.

20 Minutes

Ku melihat foto diriku waktu masih berumur 7 tahun yang sedang tersenyum lucu. ku mendapati diriku sedang memakai topi sinterklas berwarna merah, papa ada disamping sebelah kananku, ia sedang tersenyum ke depan menghadap kamera, ia memakai kemeja rapi bermotif garis-garis hitam putih, hanya saja ia tidak memegang tanganku seperti yang dilakukan mama,  sedangkan mama lagi memegang tanganku dan berada di sebelah kiriku, ia juga tersenyum manis ke depan kamera, dengan T-shirt bertuliskan “merry christmas”, persamaan dari foto ini adalah kita bertiga kompak mengenakan topi sinterklas yang melekat masing-masing pada kepala kita disertai dengan latar belakang salib gereja yang menjulang tinggi

ini adalah foto favoriteku saat merayakan Natal dengan mama dan papa, kubalik photo tersebut dan ku melihat tanggal serta tahun yang tertera di balik nya ” fri-25-dec-1981″

hahh…saat itu diriku bahagia sekali, karena ku memiliki 2 malaikat yang selalu menjaga dan menyayangiku…

entah kenapa setiap kali ku melihat foto ini aku pasti tersenyum geli,  namun beberapa menit kemudian aku pasti langsung menangis…

Read more »

Posted: March 11th, 2009 under Short Stories - 20 Comments.

Hei deni, aku suka baca blog kamu loh, kita ketemuan yuk di CITOS?, kamu bawa mobil paling satu-jam-an juga nyampe. “tapi aku gak ada mobil tuh..aku suka ngangkot klo ke jakarta..” oh ya udah deh klo gitu…..bye-bye…

beberapa hari yang lalu gw dapet SMS dari cewek bernama irene, dia bilang dia suka baca blog gw ngefans sama isi tulisan blog gw. lalu gw bales SMS-nya untuk menanyakan klo dia tau No hape gw dari mana ya?, terus dia bilang klo dia tau dari temennya yang bernama aldi (gw gak kenal aldi), dan aldi ini punya temen cewek yang tau no hape gw, hanya saja si irene gak mau ngasih tau ke gw tentang siapa temannya si aldi (yang katanya cewek) yang tau no hape gw.

jujur pertama kali gw agak ngerasa flattered ajah ketika dapet SMS dari cewek yang ternyata dia doyan baca isi tulisan blog gw. namun akhir dari isi SMS kita berakhir dengan perasaan ilfil-nya si irene ketika dia tahu kalo gw bukan cowok bermobil.

berikut adalah isi SMS antara gw dan irene
Read more »

Posted: March 14th, 2009 under Stupid-Essay - 14 Comments.

081280702419

dua hari yang lalu gw dapet tlp dari No 081280702419, suaranya seperti bapak-bapak pedofilia gitu. dia mengaku sebagai Ir. Dr …….(lupa gw namanya) yang mengaku dari pihak TELKOMSEL.

bapak-bapak-suara-pedopil itu bilang kalau gw telah memenangkan uang sebesar Rp. 7.000.000 dan pulsa Rp. 1.000.000 dan mengklaim kalau nama gw telah disebutkan secara langsung sebagai pemenang undian poin TELKOMSEL di stasiun global TV.

081280702419  : ” halo, selamat siang… dengan bapak siapa ini?? ”

deni : ” oh..saya deni pak, ini darimana ya?? ”

081280702419  : ” saya Ir. dr…. (gw lupa namanya), begini pak..saya dari TELKOMSEL, saya hanya ingin memberitahukan kalau bapak deni adalah salah satu pemenang undian poin TELKOMSEL. pak deni memenangkan uang sebesar Rp. 7000.000 dan pulsa senilai . Rp. 1.000.000. omong-omong pak deni kemarin nonton global TV acara pengundian telkomsel gak??

deni : ” enggak nonton tuh pak ”

081280702419 : aduh..sayang sekali pak deni gak nonton, ya udah, ini hadiahnya akan saya transfer ke rekening pak deni, no rekeningnya berapa ya??? ”

deni : ” oh…saya gak apal rekening saya tuh pak, saya  cari dulu deh buku tabungan saya, nanti saya tlp lagi, gimana ? ”

081280702419  : ” oke…gak masalah..saya tunggu ya pak deni..”

*klik*

saat ini gw uda tau kalo itu adalah tipuan, cuman untuk memastikan gw pun menelpon CS TELKOMSEL.

CS TELKOMSEL : ” halo selamat siang dengan dina, ada yang bisa saya bantu? ”

deni : ” halo mbak dina, begini, apakah benar saya termasuk salah satu pemenang undian TELKOMSEL POIN ?? ”

CS TELKOMSEL : ” kalau untuk pengumuman undian  TELKOMSEL POIN  baru akan diberitahukan akhir bulan ini tuh pak.. sampai saat ini TELKOMSEL belum memberitahukan pengumuman pemenang lewat media manapun. ”

deni : ” oh..soalnya saya baru aja dapet tlp dari seseorang yang mengaku dari pihak TELKOMSEL dan memberitahukan kalau saya termasuk salah satu pemenang undian TELKOMSEL POIN ”

CS TELKOMSEL : ” oh..mohon diabaikan saja pak, karena itu sudah termasuk kategori penipuan, kalau boleh saya tahu ini dengan bapak siapa saya bicara ? ”

deni : ” saya deni ”

CS TELKOMSEL : ” iya pak deni, saya menegaskan kalau sampai saat ini pengumuman pemenang undian TELKOMSEL POIN belum diberitahukan lewat media apapun, jadi mohon diabaikan telepon yang pak deni terima, karena itu termasuk penipuan.

deni : ” okay..makasih deh mbak.. ”

CS TELKOMSEL : ” ada lagi yang bisa saya bantu pak deni ? ”

deni : ” oh uda enggak ada lagi mbak..makasih deh mbak atas infonya.. ”

CS TELKOMSEL : ” terimakasih kembali, selamat siang ”

*klik*

lalu gw kembali menelpon si 081280702419 untuk serangan balik anger

deni : ” halo pak, aduh saya tidak bisa menemukan buku tabungan saya tuh pak, jadi saya gak tau no rekening saya… begini aja deh..bisa enggak kalau uang dan pulsanya dikirim ke alamat rumah saya aja lewat paket pos ?? ”

081280702419 : ” oh bisa pak deni !!, bisa tolong kasih tau alamat rumah pak deni?? biar saya catat ”

deni : ” nanti saya SMS alamat rumah saya gimana pak??, kebetulan saya lagi sibuk dengan dokumen kerjaan saya niy ”

081280702419 : ” oke deh…saya tunggu ya pak deni. ”

* klik *

lalu gw SMS lah alamat rumah & kantor gw versi ajaib-nya

isi SMS : pak mohon uang dan pulsanya dikirim ke alamat rumah saya di jalan becyek gyak adya ojyek muka loe meincreit, kampung titit no 182

atau bisa ke alamat kantor saya yang beralamat di jalan mukelubautaibabi no 59, samping pangkalan becak.

dan dari pengalaman tersebut gw sebagai manusia nabi yang murah hati dan maha pengampun ingin menyampaikan satu dua patah kata untuk  081280702419 :

Posted: March 16th, 2009 under Stupid-Essay - 13 Comments.

Blacky Smiley Plugin is brought to you by Ganda Manurung

Gw bikin blog ini sejak Januari 2009 yang lalu ( berarti kira2 masih 3 bulanan gicyu dech…). sehabis membeli paket hosting dan domain serta memilih theme yang gw suka. gw memutuskan untuk membuat emoticon pada blog gw.

emoticon pertama gw adalah gambar-gambar monyet seperti ini

gimana addemoticons12685heheheheh

jujur gw suka dengan emoticon ini.. tapi gw gak tau gimana caranya supaya emoticon ini ada di text area comment gw, supaya orang2 yang memberikan komen dapat memakai emoticon ini sebagai wujud ekspresi komen mereka terhadap isi postingan gw.

sempet terlintas di pikiran gw untuk mencari plugin emoticon yang comical gitu namun kocak.  dan akhirnya Tuhan menjawab doa gw…  gw pun menemukannya di blog Thegands , dan blog thegands ini sempat di review sama bang zalukhu juga loh.. and bisa di lihat di sini
Read more »

Posted: April 1st, 2009 under Stupid-Essay - 14 Comments.

Kepada dirimu yang kini entah berada dimana

soulmate

Kepada dirimu yang kini entah berada dimana

aku ingin kita akan bertemu suatu saat nanti.

entah di halte bus saat kita lagi menunggu bus untuk pergi ke kantor mungkin,

atau di bioskop saat kita lagi menunggu film yang ingin kita tonton mungkin,

atau di restoran siap saji saat jam makan siang tiba mungkin,

atau di mall saat kita sedang jalan-jalan sekedar window shopping mungkin,

atau di gramedia saat kita ingin membaca buku yang sama mungkin,

atau di tempat yang tidak pernah kita duga akan menjadi tempat kita pertama kali bertemu.

Kepada dirimu yang kini entah berada dimana.

aku harap kita akan saling menaruh hati suatu saat nanti.

ketika mata bertemu dengan mata

ketika senyum berbalas dengan senyum

ketika hati tertarik dengan hati.

Kepada dirimu yang kini entah berada dimana.

aku harap kita akan berkenalan suatu saat nanti, ketika kau menjulurkan tanganmu dan menyebutkan namamu sambil tersenyum kepadaku, dan aku akan membalas dengan mengenggam tanganmu dan menyebutkan namaku “hi, nama aku deni”.

Kepada dirimu yang kini entah berada dimana.

aku harap kita akan saling menukar no handphone satu sama lain, sehingga kita dapat saling menelpon dan mengirimkan SMS untuk mengungkapkan rasa rindu kita masing-masing

Kepada dirimu yang kini entah berada dimana.

aku harap kita akan pacaran suatu saat nanti, aku ingin ada kamu yang memperhatikan aku lewat SMS atau lewat telepon untuk sekedar bertanya mengenai keberadaanku ketika aku belum pulang ke rumah hingga larut malam karena masih berada di kantor.

kepada dirimu yang kini entah berada dimana

aku ingin kamu selalu ada disampingku untuk membagikan senyummu ketika aku bersedih

membagikan tawamu ketika aku menangis, membagikan semangatmu ketika aku putus asa.

Kepada dirimu yang kini entah berada dimana.

aku harap kita akan mengucapkan janji pernikahan untuk saling setia di gereja dan disaksikan oleh kedua orang tua kita.

kepada dirimu yang kini entah berada dimana.

aku harap kita dapat menjadi orang tua yang baik bagi ketiga anak-anak kita suatu saat nanti

kita dapat menceritakan dan mengajarkan mengenai tentang apa itu arti Tuhan, hidup, cinta, perjuangan, mimpi, impian dan kebahagiaan kepada mereka.

kepada dirimu yang kini entah berada dimana…. aku akan menunjukkan surat ini kepadamu bila suatu hari nanti aku bertemu denganmu.

sincerely yours

deni oktora

Posted: May 1st, 2009 under Stupid-Essay - 4 Comments.

Surat Untuk Tuhan

surat-untuk-tuhan

dear Tuhan

malam ini aku sedih sekali, hingga aku mengambil secarik kertas dan sebuah bolpoin untuk menulis surat ini kepadaMu. ada banyak hal yang ingin aku tanyakan kepadaMu malam ini. aku selalu melakukan ini bila aku sedang merasa sedih, kesepian, hampa dan tidak lagi memilki teman untuk dijadikan teman curhat hingga aku bingung kemana lagi aku harus mengutarakan rasa gundahku ini. malam ini suasana di kamarku begitu sepi, hening dan dingin. mama papa sudah tidur, adek-adekku sudah tidur, ku melihat teras rumahku dan ternyata anjing-anjingku yang selalu setia menjadi temanku ternyata sudah terlelap dalam tidurnya.

Read more »

Posted: May 4th, 2009 under Stupid-Essay - 10 Comments.

Apa arti menunggu buat kamu saat ini?

waiting

Menunggu. ketika mendengar kata menunggu apa yang langsung terlintas dalam sekejap di benak kalian?. satu yang pasti menunggu adalah suatu aktivitas yang menjemukan dan membosankan untuk dilakukan, namun sering kita tidak memiliki pilihan lain untuk menghindarinya. oleh sebab itu kadang kala di kehidupan kita, tak jarang kita dipertemukan dengan suatu kondisi dimana kita tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu.

Aku benci menunggu, yah aku sangat benci menunggu.. tapi aku yakin kalau kalian juga benci menunggu sama sepertiku, iya kan???

kenapa aku benci menunggu?? karena menunggu sering kali membuat alisku bertaut sambil sesekali melihat jam tangan dan bertanya-tanya dalam hati “mengapa dia lama sekali ya datangnya?”

menunggu sering membuat ku menjadi lebih sering menggigit jari sambil memeriksa isi inbox handphoneku dan berharap kalau dia akan mengirim pesan lewat SMS kepadaku

Menunggu sering membuatku gelisah ketika sehabis mengikuti interview dan  psikotest di sebuah perusahaan dan sang HRD akan berkata ” mohon tunggu 2 minggu lagi untuk hasilnya, kalau diterima maka kamu akan di hubungi lewat telepon ”

ahhh…menunggu sering membuatku kesal. menunggu berarti diam, bengong, membisu, tanpa tahu apa yang akan terjadi bila saatnya tiba. menunggu kerap mendatangkan kegelisahan dipikiranku hingga aku menjadi lelah dan muak karenanya hingga ku tak memiliki kata-kata selain berucap ” ya sudahlah..kita lihat apa yang akan terjadi..”

lihat mila, gadis berusia 23 tahun ini rela menunggu ayahnya yang sedang terbaring koma di RS akibat terkena gejala stroke berat. setiap malam sehabis pulang kantor Mila menyempatkan dirinya untuk menjenguk sang ayah di RS . tak lupa ia selalu membawa pakaian bersih untuk ayah tercinta dan mengenakan ke tubuhnya, ia juga selalu membersihkan wajah sang ayah dengan mengunakan air hangat agar wajahnya terlihat lebih cerah , membuang air seni yang sudah penuh di pispot dan mencucinya hingga bersih, mengajaknya berbicara walau mungkin Ayahnya tidak bisa mendengar dan membalas setiap perkataan yang disampaikan Mila. itu semua rutinitas yang selalu Mila lakukan setiap malam sehabis pulang kantor saat menjenguk sang ayah. Mila sudah melakukan hal ini selama satu setengah tahun lamanya. Namun Mila tidak kenal lelah untuk menunggu, jauh di dalam lubuk hatinya ia masih menyimpan secuil harapan kalau suatu saat nanti ayahnya akan tersadar dari koma.

sekarang lihat Samuel, pemuda berusia 23 tahun  yang sedang susah payah mencari pekerjaan di jakarta. sudah puluhan lamaran ia kirim lewat email dan pos namun belum ada panggilan balik satupun dari perusahaan yang ia lamar. tak jarang ia hanya duduk diam menatap handphonenya, kadang menatap kosong layar inbox email yahoonya setiap hari. semua itu ia lakukan demi menunggu panggilan balik dari salah satu perusahaan yang telah ia lamar untuk merekrutnya menjadi karyawan. Samuel sudah menunggu selama 2 tahun, namun ia tidak pernah berhenti untuk menunggu karena ia yakin suatu saat ia akan mendapat pekerjaan di Jakarta seperti yang dicita-citakannya selama ini.

menunggu. sepertinya hanya Tuhan dan para malaikatnya yang tidak perlu menunggu. sepertinya hanya Tuhan yang tidak pernah merasakan rasa was-was, rasa cemas, rasa gelisah dan rasa takut yang sering kali menghantui pikiran kita saat menunggu.

sementara apa arti menunggu bagi diriku saat ini?? hemm..saat ini.. menunggu bagiku adalah sedang duduk di sofa lembut stand Jco untuk menunggu frozen-ice-cappucinoku terhidang di atas meja, setelah itu aku akan menunggu seorang wanita yang akan berkenalan denganku di mall ini.. yah…menunggu..cukup menjemukan untuk dilakukan.

aku benci menunggu, tapi  “good things come to those who wait” kan??

Posted: May 18th, 2009 under Stupid-Essay - 5 Comments.

Waktu

time_clock

Aku membenci waktu sebesar aku mencintainya. Tau kenapa aku membenci waktu?? Karena waktu telah membuatku meninggalkan semua kenangan indah yang telah aku lewati bersama hidupku. Kenangan ketika pertama kali aku mencium aroma cinta, kenangan ketika pertama kali aku dibisikkan suara cinta, kenangan ketika pertama kali aku jatuh dalam pelukan cinta. Semua kenangan indah itu telah menghilang. Kenangan indah itu bukan menghilang karena telah menguap dan dibawa oleh angin, bukan juga telah luntur dibawa oleh air, bukan juga telah rusak dimakan oleh karat, tapi kenangan indah itu sudah pergi disimpan sendiri oleh waktu. Kini Aku hanya bisa mengingatnya sebagian semua kenangan itu di hati – kadang aku tertawa bila mengingatnya. Namun aku tak bisa kembali lagi padanya, aku tak bisa lagi mengalaminya, tak bisa lagi mengulangnya karena waktu menolak memutarnya kembali untukku. Waktu telah mengambil semua kenangan indah milikku. Aku membenci waktu.

Tau kenapa aku mencintai waktu? Karena waktu telah membuatku meninggalkan semua kenangan pahit yang telah aku lewati bersama hidupku. Kenangan ketika pertama kali aku merasakan patah hati, kenangan ketika pertama kali seseorang yang ku cintai pergi begitu saja meninggalkan ku sendiri, kenangan ketika pertama kali aku merasakan luka yang menganga dan terbuka lebar di relung yang paling dalam di hati. Kenangan pahit itu bukan menghilang karena telah menguap kemudian dibawa oleh angin, bukan juga telah luntur dibawa oleh air, bukan juga telah rusak dimakan oleh karat, tapi kenangan pahit itu sudah pergi disimpan sendiri oleh waktu. Kini aku hanya bisa menyimpan sebagian semua kenangan itu di hati – kadang aku menangis bila mengingatnya. Namun aku tak bisa kembali lagi padanya, aku tak bisa lagi mengalaminya, tak bisa lagi mengulangnya karena waktu menolak memutarnya kembali untukku. Waktu telah mengambil semua kenangan pahit milikku. Aku mencintai waktu.

waktu ada dimana-mana, dia ada di kartu ucapan selamat ulang tahun, lengkap dengan tanggal, bulan dan tahun yang tertera di kartu tersebut, dia ada di kartu ucapan selamat hari valentine, lengkap dengan tanggal, bulan dan tahun, dia ada di kartu undangan hari pernikahan kalian, lengkap dengan tanggal, bulan, dan tahun. Bahkan dia juga ada di batu nisan kalian, lengkap dengan tanggal, bulan, dan tahun ketika kamu lahir dan ketika kamu mati.

Waktu yang mencetak semua kenangan indah dan buruk yang terjadi di setiap garis kehidupanmu.

Kenangan indah yang pasti akan kamu cintai – kenangan yang akan membuat wajahmu ingin menggoreskan senyum kecil bila mengingatnya.

kenangan  pahit yang pasti akan kamu benci – kenangan yang akan membuat wajahmu ingin mengeluarkan bulir-bulir bening dari kelopak matamu bila mengingatnya.

waktu adalah teman setia Tuhan, bahkan menurutku waktu adalah tangan kanan Tuhan, atau bisa disebut juga sebagai ajudan Tuhan. kenapa aku bisa berkata seperti itu? karena hanya Tuhan yang tidak terikat dengan waktu, hanya Tuhan yang tidak dibatasi dengan waktu, dan hanya Tuhan yang bisa menyuruh waktu untuk melakukan segala sesuatu agar terjadi di kehidupan kita.

telinga kita pasti sudah tidak asing dengan slogan “hidup, mati, jodoh, rezeki itu semua ada di tangan Tuhan” itu tandanya Tuhan berbisik dengan waktu untuk melakukan kehendakNya dalam menentukan kapan hidup, mati, jodoh dan rezeki yang akan di taruh di setiap garis kehidupan kita atas perintahNya.

aku membenci waktu sebesar aku mencintainya.

Posted: June 3rd, 2009 under Stupid-Essay - No Comments.

Love-stoned

crying_statue_done

Sudah cukup lama Adam menaruh hati kepada Yashica. sudah cukup lama pula Adam menyembunyikan isi hatinya dari Yashica bak harta karun yang dikubur dengan rapi di salah satu sudut ruang pulau tak berpenghuni. Adam selalu menikmati pesona Yashica secara sembunyi-sembunyi di kampus: di lobby utama Adam selalu memerhatikan Yashica dari balik punggung mahasiswa-mahasiswi yang sedang sibuk lalu-lalang; di kelas Adam selalu memerhatikan Yashica dari tempat duduknya yang berada paling belakang pojok sudut kelas; di perpustakaan Adam selalu memerhatikan Yashica dari balik buku yang tengah pura-pura ia baca.

Rambut panjang sebahu berwarna hitam legam yang tergerai dengan lembut dipunggung Yashica terlihat seperti selendang sutra, kedua bola mata indah kepunyaan Yashica selalu memancarkan kehangatan layaknya rembulan yang menyinari kegelapan, kulit putih yang melekat pada tubuh mungil Yashica terlihat seperti gumpalan awan-awan yang menari di angkasa. Adam menemukan pemandangan itu semua pada sosok Yashica. pemandangan itulah yang membuat Adam Jatuh cinta untuk pertama kalinya dengan Yashica ketika bertemu dan berkenalan dengannya satu tahun yang lalu saat pengumuman penerimaan mahasiswa baru.

Saat itu Adam tengah melihat papan pengumuman penerimaan mahasiswa baru yang dipasang pada papan di lobby utama kampus. Adam mengernyitkan dahinya sambil menatap teliti daftar list — berisi ratusan nama mahasiswa-mahasiswi yang dinyatakan lulus ujian seleksi masuk — dengan teliti. hingga kemudian seorang gadis cantik datang menghampiri dan membuyarkan konsentrasinya.

“eh, kalo mau liat pengumuman penerimaan mahasiswa baru di papan ini ya??

Adam menengok dan menatap mata gadis itu, Adam diam membeku. matanya menatap jauh lebih dalam ke bola mata gadis itu. Ingin dirasakannya untuk lebih lama lagi menikmati pemandangan indah yang terhidang di hadapannya. Namun pemandangan itu berganti seketika dengan sosok jemari lentik yang menari-nari dihadapannya. Adam tersadar dari sihir paras manis gadis itu.

“hey, kamu kok malah bengong?”

Adam terkesiap, pipinya mendadak merah merona karena malu.

Read more »

Posted: June 7th, 2009 under Short Stories - No Comments.

Anna Namanya

anna

Anna namanya, hari-harinya kini dihabiskan dengan menumpahkan bulir-bulir air mata yang mengalir deras dari kedua bola mata indahnya.

Anna namanya, hari-harinya kini dihabiskan dengan menyendiri di dalam kamar. pintu kamar yang terkunci dari dalam serta jendela dengan kain gorden yang tertutup rapat memberi kesan seakan-akan Anna melarang cahaya mentari pagi datang menyapanya melalui jendela, memberi kesan seakan-akan Anna melarang cahaya bulan datang menemaninya  di kala malam.

Saat ini Anna hanya ingin sendiri dipeluk kesedihan. Anna hanya ingin menangis di kamarnya tanpa di ketahui siapapun. Tanpa diketahui oleh mentari,tanpa diketahui oleh bulan tanpa diketahui oleh teman-temannya. tapi Anna tidak tahu kalau aku mengetahui semua kesedihannya.

Tidak ada yang dapat mendengar tangisan Anna di kamarnya, tidak ada yang mengetahui kesedihan Anna yang tergambar dengan jelas di kamarnya. Tidak ibunya, karena ibunya selalu mengira kalau Anna pasti sedang tidur atau sedang belajar di dalam kamar. Tidak juga Ayahnya karena Ayahnya terlalu sibuk dengan pekerjaannya yang selalu pergi subuh dan baru akan pulang ke rumah bila larut malam. Tidak juga dengan teman-teman sekolahnya, karena Anna tidak terlalu memiliki banyak teman di sekolahnya. Lagi pula siapa yang ingin berteman dengan seorang gadis cacat yang bila pergi kemana-mana selalu membawa kursi roda? Anna tidak pernah menyalahkan teman-temannya yang tidak mau menemaninya. ia paham betul kenapa Jesika, Ratna, Desi dan Wulan tidak mau menemaninya, Ia paham kalau kondisi kakinya yang lumpuh tidak memungkinkan bergerak lincah dan melakukan atraksi membangun bentuk segitiga piramida seperti yang Jesika, Ratna, Desi, dan Wulan lakukan ketika mengikuti ekstra kurikuler cheerleader. Ia juga paham mengapa Olivia, Lydia, Rachel, Maria, Cesa, Juli tidak mau menemainya. Ia paham kalau kondisi kakinya yang lumpuh tidak mungkin bergerak lincah mengikuti irama langkah kaki mereka yang tengah asyik menghabiskan waktu di Mall untuk belanja baju, tas, sepatu, kosmetik dan barang-barang keperluan perempuan lainnya. bila Anna ikut berbelanja dengan mereka pastinya salah satu dari mereka harus mendorong kursi roda Anna selama mereka berbelanja, Bukan rasa have-fun yang akan mereka dapat malah rasa capek dan pegal karena harus repot membantu mendorong dan mengarahkan kursi roda hitam milik Anna yang berat.

Lantas kenapa Anna menangis sendirian di dalam kamar? Apakah ia sedih karena tidak memiliki teman?

Bukan, Bukan itu yang membuat Anna jadi sering mengunci diri di dalam kamar dan menguras setiap butir air matanya.

Lantas apa yang membuat Anna menangis sendirian di dalam kamar?

Anna menangis karena aku.

Karena kamu?

Ya, karena aku.

biasanya cahaya sang mentari pagi  datang memanggilnya dengan mengetuk-ngetuk jendela kamar, kemudian Anna bangun dari tempat tidurnya, duduk di kursi roda, berjalan mendekati bingkai jendela dan membukanya dengan lincah hingga cahaya matahari pagi datang memeluknya dengan hangat. “terimakasih atas pagi yang indah” biasanya Anna selalu mengucapkan kata-kata itu kepada sang mentari, dan sang mentari pun membalas ucapannya dengan melemparkan senyum hangat kepada Anna.

biasanya cahaya rembulan menghampirinya dengan mengetuk-ngetuk jendela kamar, kemudian Anna bangun dari tempat tidur, duduk di kursi roda , berjalan mendekati bingkai jendela. membukanya dengan riang hingga sang bulan datang memberikan kecupan di pipinya. “terimakasih telah menemaniku malam ini” biasanya Anna selalu mengucapkan kata-kata itu kepada sang rembulan, dan sang rembulan pun membalasnya dengan memberikan kerlingan mata genit kepada Anna.

Namun semua kebiasaan itu telah hilang. mentari dan bulan menjadi muram karena tidak dilihatnya lagi bingkai jendela berwarna coklat itu terbuka. sejuta tanda tanya menggayuti hati mentari dan bulan, mereka bertanya mengapa sosok gadis cantik yang memakai kursi roda tidak pernah menyambut kedatangan sinar mereka lagi?.

***

Read more »

Posted: June 15th, 2009 under Short Stories - 1 Comment.